Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh,
Ustadz
Sarwat yang saya hormati, mohon maaf sebelumnya. Setelah saya membaca
jawaban ustadz mengenai bekam, saya jadi semakin bingung. Sebelum ini
saya terbiasa bekam, meskipun tidak secara rutin sebulan sekali, tapi
ketika badan terasa sakit tidak karuan pasti saya bekam. Yang saya ingin
tanyakan :
- Sehubungan dengan jawaban Ustadz yang menyatakan bahwa bekam itu
bukan sunnah dalam hal ibadah, sepertinya saya setuju. Tapi apakah
boleh jika saya mengatakan bahwa bekam itu adalah sunnah dalam hal
pengobatan ?
- Jika hukumnya mubah, bagaimana dengan kedudukan hadits yang berbunyi : “Tidaklah
aku melewati satu malaikat pada malam aku di-isra’-kan, kecuali mereka
semua berkata kepadaku : “Lakukanlah bekam wahai Muhammad”
- Saya
pernah membaca jawaban dari seorang ustadz yang memberi jawaban bahwa
tidak diperbolehkan bekam secara rutin ( contoh : sebulan sekali) untuk
menjaga kesehatan, hanya diperbolehkan bekam jika diperlukan (sakit),
apakah benar seperti itu ?
Terima Kasih atas jawaban yang diberikan Ustadz.
Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
Jawaban
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,Sebagai
orang yang bukan ahli kesehatan, tentu Saya tidak berhak menilai bahwa
metode bekam itu sesuai atau tidak sesuai dengan ilmu kesehatan yang
baku. Barangkali memang ilmu kedokteran modern belum bisa menerima bekam
sebagai sebuah bentuk aktifitas pengobatan atau penanganan penyakit.
Namun kita harus akui bahwa bekam itu ada dan sudah digunakan oleh sejak
zaman dahulu.
Namun di sisi lain kita juga harus paham sejarah,
bahwa metode kesehatan dengan jalan melakukan bekam (hijamah) sebenarnya
bukan ditemukan pertama kali oleh Rasulullah SAW. Jauh sebelum beliau
SAW dilahirkan di Mekkah pada tahun 571 Masehi, sudah begitu banyak
orang yang melakukan bekam.
Bahkan sebagai orang Arab, boleh
jadi orang-orang kafir yang hidup di masa beliau SAW pun mungkin juga
menggunakan metode bekam dalam berbagai bentuk penyembuhan. Mengingat
bahwa di masa itu bekam memang cukup populer digunakan khalayak.
Jadi
jangan kaget kalau seandainya dahulu Abu Jahal, Abu Lahab, dan para
pemuka Quraisy pun berbekam juga. Sebab bekam memang pengobatan yang
dikenal di masa itu.
Jangan Gegabah
Kita
harus sadari juga bahwa di masa itu, bekam memang cukup populer, tidak
hanya terbatas di kalangan orang Arab saja. Selain itu, bekam juga
dikenal di berbagai peradaban umat manusia. Ada begitu banyak bangsa di
dunia ini yang menggunakannya, padahal mereka hidup dari jauh negeri
Arab, dan juga hidup jauh sebelum masa kelahiran beliau SAW.
Maka
jangan sampai karena terlalu bersemangat, lantas kita mengklaim bahwa
metode bekam adalah metode yang bersifat syar'i atau wahyu yang turun
dari langit, yang semata-mata dibawa oleh Rasulullah SAW seorang.
Memang
kita banyak menemukan hadits nabawi yang menyebutkan bahwa Rasulullah
SAW mengenal metode bekam dan kemudian beliau menggunakannnya, bahkan
merekomendasikannya kepada para shahabat. Akan tetapi kita tidak boleh
terlalu gegabah dalam menarik kesimpulan. Dalam hal ini kita harus
sedikit lebih hati-hati.
Dan yang paling penting, jangan sampai
kita mengatakan bahwa bekam adalah satu-satunya pengobatan.
Mentang-mentang Rasulullah SAW pernah berbekam, lalu kita plintir
kesimpulannya menjadi :
Kata Nabi, bekam itu obat segala penyakit apapun. Dan tidak boleh berobat kecuali hanya dengan bekam.
Wah,
kalau begini saya kira sudah agak keterlaluan. Kita boleh cinta kepada
Rasulullah SAW SAW, kita boleh mengagungkan dan kita juga boleh
membesarkan beliau SAW. Namun bukan begini caranya. Ini namanya
memelintir hadits nabi SAW, demi kepentingan bisnis bekam.
Bekam : Benarkah Sunnah Dalam Pengobatan?
Kalau
yang dimaksud dengan sunnah adalah perkataan, perbuatan dan sikap
diamnya Rasulullah SAW, saya 100% setuju bahwa bekam itu sunnah nabi.
Kita harus akui bahwa Rasulullah SAW memang berbekam bahkan menganjurkan
para shahabat untuk melakukannya.
Definisi atau takrif dari
sunnah memang demikian, yaitu definisi menurut para ahli hadits.
Sedangkan definisi sunnah menurut ilmu fiqih adalah apa yang kalau
dikerjakan berpahala dan kalau ditinggalkan tidak berdosa, itulah
sunnah.
Dunia Pengobatan adalah Teknologi Yang Terus Berkembang
Cuma
yang perlu kita perhatikan, dunia pengobatan itu adalah dunia
teknologi, yang secara sunnatullah harus selalu berkembang. Dan
ilmu-ilmu yang terkait dengan teknologi itu (termasuk pengobatan dan
kesehatan) tidak Allah turunkan melalui wahyu yang sifatnya formal
dengan jalur kenabian.
Allah menurunkan berbagai ilmu teknologi
melalui ilham, yang harus diawali lewat berbagai percobaan dan riset,
dimana syaratnya harus lewat hasil metodologi ilmiyah. Oleh karena itu,
Allah SWT memberikan keluasan dalam ilmu teknologi, yaitu siapa saja
yang melakukan riset dan penelitian ilmiyah, maka Allah akan berikan
kepadanya ilham atau ilmu.
Dan pemberian ini tidak terbatas
hanya kepada umat Islam saja, melainkan diberikan kepada siapa saja,
termasuk orang-orang kafir sekalipun. Asalkan mereka melakukan riset dan
penelitian terus menerus tanpa menyerah.
Kalau pun ilmu-ilmu
terkait teknologi itu Allah SWT turunkan lewat wahyu, baik nash Al-Quran
atau teks hadits, maka sifatnya hanya umum saja, global dan berformat
isyarat. Bukan informasi yang lengkap, detail atau rinci.
Memang
Allah SWT memerintahkan kita untuk merenungkan bagaimana unta
diciptakan, langit ditegakkan, bumi dihamparkan, dan hujan diturunkan,
temasuk bagaimana melawan grafitasi bumi. Namun semua itu bersifat
tantangan dan isyarat saja, Dan ternyata Rasulullah SAW tidak pernah
mengajarkan bagaimana menciptakan pesawat terbang, arus listrik, mesin
berbahan bakar fosil, atau memecah inti atom untuk mendapatkan energi
nuklir.
Kita sebagai muslim selama 14 abad ini hanya membaca ayat
dan hadits, tanpa tahu makna isyarat yang ada. Tetapi tidak mengapa
kalau isyarat itu tidak dijelaskan oleh Rasulullah SAW. Sebab tugas
beliau bukan untuk mengajarkan bagaimana menciptakan pesawat terbang,
atau melahirkan energi listri, atau membuat mobil dan kendaraan
bermotor, serta bukan sebagai fisikawan nuklir.
Tugas-tugas itu
bukan tugas Rasulullah SAW. Tugas-tugas itu ada di pundak kita, yang
isyaratnya ada di Al-Quran dan hadits, tetapi kalau tidak dipelajari
secara seksama, tentu tidak akan bisa dimanfaatkan juga. Malah justru
orang-orang yang di luar agama Islam yang mempelajarinya dan
mempraktekkannya, sehingga mereka bisa berhasil menjadi penemu berbagai
teknologi modern.
Rasulullah SAW Bukan Ahli Teknologi
Rasulullah
SAW adalah nabi dan rasul yang kita cintai. Kedudukan beliau sangat
tinggi di sisi Allah SWT, dan tentunya juga harus tinggi di mata kita.
Namun
meskipun demikian, beliau SAW sendiri yang mengatakan beliau bukan
orang selalu yang ahli di bidang-bidang yang terkait dengan realitas
kehidupan. Dalam satu hadits yang populer, beliau SAW bersabda :
أنتم أعلم بأمور دنياكم
Kalian lebih mengerti dalam urusan dunia kalian.
Dalam
beberapa hal, beliau memang cerdas, pandai, cerdik, dan juga banyak
belajar tentang hal-hal yang baru. Semua itu beliau dapat juga dari
pengalaman lapangan, lewat berbagai riset dan penelitian. Namun bukan
berarti beliau SAW selau cerdasa di semua bidang kehidupan.
Sebab
pengetahuan yang beliau dapat itu tidak selalu merupakan wahyu yang
turun dari langit. Ada sekian banyak ilmu yang beliau dapatkan itu
justru dari pengalaman hidup.
Oleh karena itu dalam hal-hal yang
terkait realitas kehidupan yang bisa dipelajari, Rasulullah SAW pun
boleh keliru dan boleh juga lupa. Selama yang beliau sampaikan bukan
wahyu, dan tidak terkait dengan hukum-hukum syariah, beliau boleh salah
dan boleh tidak tepat dalam memberi solusi.
Misalnya ketika
beliau SAW memutuskan tentang posisi pasukan muslimin dalam Perang
Badar. Ternyata ada pendapat yang lebih baik, dan beliau pun menyadari
bahwa pemikiran beliau kurang tepat.
Begitu juga ketika terjadi
perbedaan pendapat dalam Perang Badar, apakah perang dihentikan atau
diteruskan. Pendapat beliau SAW ternyata dibantah lewat wahyu.
Bahkan
ketika Rasulullah SAW pernah salah bersikap dan bermuka masam, ketika
didatangi oleh Abdullah bin Ummi Maktum yang tua, buta tapi ingin
belajar agama. Allah SWT pun menegur sikap utusan-Nya itu.
Bahkan
Rasulullah SAW pernah keliru menilai tentang penyerbukan bunga kurma,
dimana panen kurma menjadi gagal karena beliau mengira kurma itu tidak
perlu 'dikawinkan'. Padahal penduduk Madinah terbiasa melakukannya.
Begitu menyadari kesalahan pendapatnya, beliau SAW pun bersabda,"
Antum a'lamu bi umuri dunyakum".
Jadi
kesimpulannya, bahwa yang namanya realitas kehidupan, tiap orang bisa
belajar dan belajar sendiri, meneliti, mencari, membandingkan, melakukan
serangkaian percobaan dan seterusnya. Itulah yang dilakukan oleh
Rasulullah SAW dalam sebagian realitas kehidupan beliau. Dan kalau
keliru atau salah, tidak menjadi masalah. Toh beliau hanya keliru di
bidang yang memang bukan esensi dari kenabian.
Bolehkah Bekam Tiap Bulan?
Saya
terus terang bukan ahli bekam dan tidak punya pengetahuan yang baku
tentang bekam. Yang jelas, bekam itu bukan termasuk ritual ibadah dan
juga bukan urusan syariah. Sehingga tidak ada perintah tertentu untuk
melakukannya, dan juga tidak ada larangan untuk melakukannya.
Silahkan
dilakukan penelitian yang mendalam atas masalah ini, tentu dengan
menggunakan metode ilmiyah yang profesional, proporsional dan juga
terbuka. Lalu adakah dampak negatif atau positif dari bekam tiap bulan,
kita lihat saja hasil penelitiannya.
Wallahu 'alam bishshawab wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,Ahmad Sarwat, Lc. MA
Sumber : http://www.rumahfiqih.com/m/x.php?id=1359219399
baca juga tulisan terkait
, Bekam Dan Teori Keseimbangan Klasik Ala Galenus