Jumat, 05 September 2014

Penjelasan Logis Perihal Ayam Broiler yang Tidak Disuntik Hormon


July 31, 2010 - Fokus Utama, Opini -

Livestockreview.com, Opini. Isu suntikan hormon untuk memompa perkembangan fisik ayam broiler agar cepat besar masih menjadi stigma di kalangan konsumen. Adanya isu tersebut menyebabkan beberapa kalangan menghindari konsumsi daging ayam broiler dikarenakan takut terkena kanker. 

Mereka membandingkannya dengan ayam kampung yang secara alami mengalami kedewasaan berat badan pada umur 6 bulan. Jika masalah ini dibiarkan berlarut, maka jutaan peternak ayam broiler bisa mengalami krisis bisnis dikarenakan konsumen takut mengkonsumsi daging ayam broiler. 

Bagaimana menjelaskan isu miring ini secara tepat kepada masyarakat yang awam terhadap dunia perunggasan?Saya lebih suka menjawab pertanyaan tersebut dari sisi basis ilmu saya di bidang peternakan. Mari kita lihat beberapa fakta yang bisa ditelaah dengan jernih:

1. Ayam kampung atau lebih dikenal dengan ayam buras, dipelihara secara tradisional dan dengan asupan pakan seadanya, dikembangbiakkan secara alami tanpa teknologi yang memadai, sehingga untuk bisa mencapai bobot maksimal 2 kg memerlukan waktu pemeliharaan minimal 6 bulan.

2. Ayam broiler dikenal dengan ayam ras pedaging, dipelihara secara intensif, dengan asupan pakan yang sudah diformulasikan sesuai kebutuhan hidupnya dari fase starter-grower-finisher, dikembangbiakkan dengan teknologi canggih, sehingga untuk mencapai bobot 2 kg memerlukan waktu 35 hari.

3. Bibit ayam kampung tidak tentu induknya, terkadang pejantan adalah anak dari induknya sehingga terjadi in breeding, yang seringkali memunculkan gen pembawa sifat negatif (resesif) yang tadinya hanya carrier, kemudian muncul pada keturunan hasil inbreeding tersebut. Hal itulah yang menyebabkan kualitas doc (day old chick/ ayam umur sehari) ayam kampung sangat tidak seragam dan selalu menurun kualitasnya dari waktu ke waktu.

4. Bibit ayam broiler didapatkan dari penelitian genetika yang cukup panjang, bertahun tahun dan menelan biaya yang besar, yang bahkan Indonesia sendiri sekarang hanyalah user saja : baru bisa membeli GPS (Grand Parent Stock) atau saya katakan generasi kakek nenek ayam, kemudian dikembangbiakkan untuk mendapatkan PS (Parent Stock) atau saya katakan generasi Bapak Ibu. Nah dari PS inilah kemudian didapatkan FS (Final Stock), yaitu DOC yang dijual kepada para peternak untuk dipelihara di kandang komersial.

5. Dari penelitian tersebut, potensi genetik dari ayam yang tersembunyi bisa dimunculkan dalam performa pemeliharaan ayam broiler FS ini, yaitu daging cepat tumbuh terutama daging dada, bulu sedikit, tulang lunak. Namun tentunya ada faktor negatif yang didapatkan, antara lain ayam mudah stres dikarenakan metabolisme tubuh yang lebih cepat daripada ayam kampung. Apalagi dipelihara dengan sistim koloni atau dalam satu kandang bisa ribuan ekor sehingga rentan akan serangan penyakit.

6. Untuk melindungi ayam dari wabah penyakit tersebut maka diperlukan asupan vitamin dan vaksinasi. Vaksinasi adalah memasukkan bibit penyakit yang dilemahkan untuk menimbulkan kekebalan pada tubuh ayam terhadap penyakit tertentu. Kalau di manusia, lazim dikenal sebagai imunisasi. Metode yang dilakukan ada yang melalui tetes mata, air minum, dan suntik. Mungkin yang dilihat orang awam adalah suntikan vaksinasi tersebut kepada ayam dikira sebagai suntikan hormon.

7. Bisnis peternakan ayam broiler dengan harga pasar yang diserahkan secara bebas kepada mekanisme pasar di indonesia, maka margin keuntungan semakin tergerus dikarenakan persaingan bisnis yang semakin tajam, terkadang malahan harga jual di bawah BEP (Break Event Point). Apalagi permintaan yang sangat berfluktuasi di sebabkan tergantung oleh acara tradisional, biasanya harga jual bagus pada saat hari raya lebaran, bulan baik untuk acara hajatan, liburan sekolah. Sedangkan di luar waktu itu maka harga anjlok. Contoh kasus yakni harga jual per kg ayam broiler Rp 10.000, padahal BEP Rp 11.000. Terkadang jika populasi ayam broiler tidak terkontrol (over populasi) pernah harga jual jatuh sampai Rp 7.000.Pada kasus seperti ini, peternak mesti menanggung rugi Rp 4000 per kg.

8. Dengan bisnis yang sangat fluktuatif dan margin keuntungan tergerus, sangat tidak masuk akal untuk menambahkan cost/biaya produksi untuk menyuntik hormon yang tentunya sangat mahal.
Delapan fakta di atas barangkali bisa memberi gambaran yang gamblang bagi masyarakat awam perihal isu penggunaan hormon pada ayam broiler yang salah besar dan tidak bisa dijelaskan sama sekali dasar ilmiahnya.

Ir. Zaenal Amin, Sarjana Peternakan UGM dan Praktisi perunggasan pada PT Throw International

Tidak ada komentar: